HomeIMCSEOKekuatan Sedekah

Kekuatan Sedekah

Posted in SEO on 23rd February 2013

Warning: Missing argument 2 for wpdb::prepare(), called in /home3/rosipras/public_html/wp-content/plugins/share-and-get-it/engine.php on line 107 and defined in /home3/rosipras/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 1154

 


 

 

Dalam Al Qur’an banyak ditemukan firman Allah yang memerintahkan kita untuk bersedekah dan membelajakan sebagian harta kita dijalan kebaikan. Namun sayang kebanyakan kita tidak menghiraukan perintah tersebut. Kita kuatir kalau bersedekah akan mengurangi jumlah harta kita. Sifat kikir dan tamak mendorong kita untuk enggan membayar zakat , infak dan sedekah. Padahal manfaat sedekah itu sebenarnya akan kembali kepada diri kita juga.

Allah melipat gandakan pahala sedekah sampai 700 kali lipat, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat al Baqarah ayat 261 :

 

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allahadalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 261)

 

Dalam berbagai ceramahnya ustadz Yusuf Mansyur selalu mengingatkan tentang keutamaan sedekah ini. Beliau banyak menceritakan tentang pengalaman orang orang yang lolos dari berbagai bencana dan musibah dengan bersedekah. Ternyata sedekah dapat menyelamatkan seseorang dari kebangkrutan, tekanan ekonomi, berbagai penyakit dan penderitaan berkepanjangan.

Berikut ini kami sampaikan pengalaman beberapa orang yang selamat dari kecelakaan, dan kebangkrutan dengan membiasakan bersedekah setiap hari. Kisah ini kami kutip dari web Program Pembibitan Penghapal Qur’an binaan Ustadz Yusuf Mansyur pppa.or.id. di Tangerang. Anda yang ingin mengetahui lebih banyak tentang keajaiban dan kekuatan sedekah ini silahkan membuka situs tersebut .

 

KISAH 1

DIABETES HILANG MEMORI KEMBALI


Oleh Adinandra Wardhana

Apa sih amalan khusus yang kamu lakukan, sehingga Allah SWT memberikan pertolongan dan perlindungan kepadamu sedemikian rupa?” .Demikian pertanyaan para kerabat yang menjenguk saya, sepulang saya dari Rumah Sakit.

Saya maklum. Bahkan saya sendiri juga heran, karena amal ibadah saya biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa pada diri saya. Tapi alhamdulillah, di luar dugaan sebuah kecelakaan dahsyat ternyata tidak sampai berakibat fatal pada diri saya. Bahkan, diabetes saya sembuh setelahnya.

Ceritanya begini. Saya ini seorang staf penjualan di sebuah perusahaan asing di Surabaya. Rumah saya di Malang. Jadi, setiap hari kerja saya pergi-pulang rute Malang-Surabaya.

Pada 10 Desember 2010, usai shalat Jum’at saya mengemudi mobil dari Surabaya menuju Malang. Sore itu saya ada janji dengan salah satu customer di Kota Apel. Rencana saya, setelah menemui customer itu, bisa langsung pulang.

Kira-kira pukul 15.30 WIB saya sampai di Purwosari, sejarak 15 km sebelum kota Malang. Spot ini dikenal sebagai jalur rawan kecelakaan.
Sampai di sebuah putaran balik, tiba-tiba sebuah truk dari arah Malang nyelonong menghajar mobil saya. Braaakkk! Tabrakan “adu kebo” tak terhindarkan.

Belakangan saya baru tahu, truk itu remnya blong. Si sopir gagal menghentikan laju kendaraannya di jalan yang menurun. Mau banting stir kiri, dalamnya jurang dan sungai menganga. Sedangkan jika banting stir ke kanan, akan menghajar separator jalan. Maka sopir truk itu banting stir ke kanan tepat di sebuah ruas putaran balik, persis ketika saya melintas di situ.
Sebelum semuanya gelap, saya sempat memberikan nomor kontak kantor dan keluarga kepada polisi untuk dikabari.

Ketika sadar, saya sudah berada di RS Saiful Anwar Malang. Luka yang saya alami cukup parah; Tengkorak muka remuk dan kedua tulang tangan kanan saya patah sama sekali.Di rumah sakit, saya ditangani dokter spesialis syaraf yaitu Dr. Widodo, dengan tim medis yang terdiri 7 dokter syaraf, bedah syaraf, bedah tulang, bedah kosmetik, internist, mata, dan dokter THT.

Sebelum kecelakaan, saya sudah menderita diabetes. Jadi, saya tidak bisa langsung dioperasi untuk memperbaiki tulang-tulang tengkorak muka dan lengan. Sebab, kata dokter, kadar gula darah saya masih tinggi sehingga harus diturunkan dan distabilkan dulu.

Sepekan kemudian, pada 17 Desember 2010, akhirnya dokter memutuskan saya bisa menjalani operasi bedah tulang dan kosmetik. Dua hari jelang operasi, istri saya berkeliling rumah sakit dan pasar di dekat situ untuk bersedekah. Dia bagikan uang kepada orang-orang tua dan para pasien di IRD yang tidak memiliki biaya untuk berobat, sambil meminta doa untuk kesembuhan saya.

Sehari jelang operasi, tulang tengkorak wajah saya difoto rontgen oleh dokter bedah plastik. Hasilnya, Subhanallah, Allahuakbar, hampir seluruh tengkorak muka saya sudah tersambung kembali dengan sendirinya! Sehingga menurut dokter, hanya diperlukan pemasangan satu pen di pipi kanan saya.
Untuk tulang lengan saya yang patah, masih tetap harus dioperasi untuk memasang pen.

Setelah kesadaran saya membaik, saya ditangani oleh dokter syaraf. Waktu diperiksa olehnya, saya tidak sanggup melakukan gerakan-gerakan sederhana seperti memegang telinga kiri dengan tangan kanan, menulis satu kalimat sederhana, membedakan bentuk-bentuk sederhana seperti bola, kubus, piramid, dan lain-lain. Bahkan, saya tidak bisa mengingat nama benda-benda di sekitar saya!

Dengan hasil pemerikasaan seperti itu, dokter syaraf menyampaikan kabar seram pada istri saya, bahwa saya akan kehilangan 50% memori ingatan saya. Dan, biasanya perlu beberapa bulan perawatan untuk memulihkannya.
Namun, baru 2 minggu menjalani rawat inap, saya sudah boleh pulang. Kondisi saya secara umum sudah baik, walau memori otak saya belum 100% pulih.

Kenyataan ini betul-betul mengherankan dokter syaraf yang menangani saya. Sebab, katanya, dia pernah memiliki pasien yang kondisinya mirip saya dan harus dirawat di RS sampai 7 bulan lamanya.

Rawat jalan di rumah, saya masih belum bisa mengingat beberapa nama benda di sekitar saya. Secara berkala, saya masih tetap harus kontrol ke dokter, terutama untuk kesehatan syaraf dan internist.

Alhamdulillah, sekitar 2 bulan di rumah, memori saya terus membaik. Dan yang luar biasa lagi, menurut dokter internist yang menangani saya, diabetes saya dinyatakan sembuh! Allahuakbar!

Untuk mengatasi sakit kepala dan pusing (vertigo), saya juga berobat dengan akupunktur (tusuk jarum). Pengobatan alternatif ini cukup efektif, sehingga rasa sakit terus berkurang.

Menjawab keheranan tim medis maupun sanak-saudara yang membesuk atas “keajaiban” kesembuhan saya, terus terang saya pun belum menemukan jawaban yang pas.

Namun setelah merenungi semuanya, jawaban atas keajaiban itu tak lain adalah sedekah. Baik yang dilakukan istri saya ketika di rumah sakit, maupun yang saya lakukan sebelum kecelakaan.

Ya, dua hari sebelum ditabrak truk, saya mengajak anak-anak penghuni Panti Asuhan Nurul Hayat Malang makan di sebuah resto fasfood dari Amerika. Sebelumnya, mereka pun pernah saya traktir makan di sebuah resto makanan Italia.

Bukan apa-apa, saya sekadar ingin memberi pengalaman mereka makan di rumah makan waralaba mancanegara. Sehingga, meskipun tinggal di asrama yatim-piatu, mereka bisa “mengimbangi” cerita pengalaman serupa teman-teman mereka dari keluarga mampu.

Duh, betapa bahagia saya menyaksikan binar bahagia di wajah mereka tatkala makan di resto tersebut. Saya yakin, itu jadi pengalaman luar biasa dalam hidup mereka.

Maka ketika saya mendapat musibah kecelakaan, doa mereka usai shalat fardhu dan tahajud terpanjatkan untuk kesembuhan saya. Begitulah yang saya dengar dari pengasuh mereka.

Sebagai tanda rasa terima kasih sekaligus syukuran, setelah lumayan sembuh saya ajak mereka makan di sebuah resto fastfood yang lain lagi. Biar lebih lengkaplah pengalaman anak-anak dhuafa tersebut.

Dari pengalaman ini, sekarang saya hampir tak berpikir panjang untuk bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Tentu, juga diiringi dengan meningkatkan amal ibadah yang lain seperti shalat fardhu tepat waktu dan berjamaah, shalat rawatib, dhuha, tahajud, taubat, hajat, puasa sunnah, dll.
Sesuai wasiat Ustadz Yusuf Mansur, bersedekah ibarat menanam bibit tetumbuhan. Agar bibit tumbuh subur dan berbuah manis, harus rajin dirawat, dipupuk, dan disirami. Pun begitu dengan sedekah, yang harus dilengkapi dengan amalan-amalan ibadah sunah.

(Sumber:pppa.or.id )

 

KISAH 2

SEDEKAH BERBUAH ONH

 

Oleh Ahmad Salihin

Sedekah 30 juta rupiah? Beraat maaan! Tapi itulah yang dilakukan Ahmad Salihin (35). Walau awalnya berat. Tetapi setelah dijalani, dengan berusaha mengikhlaskan sedekahnya, berat menjadi ringan. Bahkan, situasinya jadi terbalik. Rasanya berat kalau tidak bersedekah. Jika tanpa iman, dan dukungan penuh istri, serta saran dan nasehat dari ustadz Yusuf Mansur, mungkin kisah sedekah 30 juta tak akan pernah ada.

Begini ceritanya. Sebagai seorang muslim, tentu wajar jika ingin sekali menunaikan rukun Islam yang ke-5: Haji. Cita-citanya ingin ia laksanakan bersama istri tercintanya, Zuriati Usman. Meski jabatan adalah Pimpinan Bank Muamalat Indonesia Cabang Ambon, Maluku, tak serta merta banyak uangnya. Dia harus menabung sedikit demi sedikit. Setiap dapat rezeki ia titipkan uangnya kepada sang istri. Rasanya lama sekali menabung uang itu.
Sampai suatu ketika di tahun 2008 ia bertemu dengan ustadz Yusuf Mansur. Tukar pikiranlah ia dengan ustadz perihal niatnya pergi haji.
Saat itu ustadz Yusuf menanyakan,” Berapa tabungan haji ente sekarang?”
Salih pun menjawab,” Dua belas setengah juta rupiah Ustadz…”
“Sumbangkan saja uang ente,” kata Ustadz Yusuf. Sebuah saran yang di luar dugaan Salih. Ia menyampaikan hal itu kepada istrinya. “ Bismillah saja, Pak,” jawab istrinya spontan. Wah, jawaban istrinya membuat niat Salih bulat untuk menyedekahkan uangnya.

Akhir 2008, seseorang yang butuh bantuan itu pun datang. Salah seorang anggota keluarganya butuh dana untuk biaya pernikahan. Ibu kandungnya saat itu menyarankan, ”Tolong bantu saudaramu itu, Nak!” Perintah ibunya itu ia patuhi. Uang tabungan haji yang sudah mencapai 30 juta rupiah itu pun bulat-bulat ia sedekahkan. Setelah itu ia melupakannya…Tepatnya, ia berusaha melupakannya. Sebab, siapapun pasti keikhlasannya diuji untuk melepaskan harta yang sangat dicintainya. Banyak lagi. Jutaan. “Saya akui, ada rasa berat menyumbangkan harta sebesar itu.”

Sampai awal Januari 2009, balasan atas sedekahnya pun datang. Ia mendapatkan hadiah dari kantor pusat selaku salah satu karyawan BMI yang berprestasi. Hadiah itu: Ongkos Naik Haji Plus (ONH Plus)! “Rezeki ONH Plus itu datang tiga minggu setelah kami menyedekahkan uang 30 juta rupiah itu,” ujar Salih.

Jika dipikir-pikir, ujar Salih, terpilihnya ia sebagai karyawan berprestasi dan dapat hadiah ONH Plus, adalah hal yang musykil. “Tapi jika menurut logika, memang tidak masuk akal, tetapi kalau mengikuti keyakinan akan kuasa Allah, tidak ada yang tidak mungkin,” ujar ayah dari Ahmad Fathan Syauqi (7,5).
Insya Allah, sudah fix Ahmad Salihin dan istrinya, akan berangkat haji tahun 2010. “Hari dan tanggal keberangkatan tinggal menunggu konfirmasi dari kantor pusat (BMI),” jelas Salih saat ditelepon akhir Juli ini.

Sejak memperoleh bukti keajaiban sedekah, Salih pun tambah kenceng sedekahnya. “Pokoknya setiap dapat rezeki, saya sisihkan sebagian untuk mereka yang membutuhkan,” tuturnya. Karena keyakinan yang sudah terpateri itu, Salih kini mampu membiayai 6 anak dhuafa sekolah. Ada tiga anak dhuafa yang ia biayai untuk menempuh Sekolah Dasar, dua anak SMP, dan satu anak kuliah di sebuah perguruan tinggi di Sulawesi.

Selain itu, Salih menyantuni empat janda miskin yang tinggal di sekitar rumahnya. “Kepada kawan-kawan, saya mengajak mereka untuk rajin-rajin sedekah. Bantulah orang-orang yang tidak mampu. Saya sendiri membuktikan, sedekah tidak membuat kita kehilangan, tetapi justeru rezeki kita bertambah-tambah. Nyatanya, setelah saya rajin sedekah, dalam menghadapi persoalan terasa dimudahkan jalan keluarnya. Selain, ada perasaan bahagia di dalam hati, serta betapa rezeki menjadi datang darimana saja tanpa kita duga,” pungkas Salih. [ApikoJM

 

 

KISAH 3

KURAS ISI DOMPET DAPAT ANAK & RUMAH

Oleh Chamelia Purnamasari

 

Bak palu godam menghujam dada, saat dokter ahli kandungan memvonis Chamelia tak bakal punya anak. Tak terbayangkan dukanya, bagaimana Chamelia dan suami Mart Andreyas Supeno, jadi pasutri tanpa anak. Selama dua tahun, sejak menikah pada 2006, segala macam usaha medis dan nonmedis agar Chamelia bisa hamil, tak jua berbuah hasil. Malah ujungnya divonis, mandul. Duh!

Chamelia sempat down. Untungnya, suami selalu menghibur dan mengajak untuk selalu bersabar. “Anak itu milik Allah, kalau Allah menghendaki menitipkan anak pada kita, tidak ada yang bisa menghalangi. Yang penting kita terus berikhtiar,” hibur Mart, pria kelahiran 30 Maret 1978.
Walau sedikit menghibur, tak ayal kegundahan terus menggelayut. Bayangkan, seumur tanpa anak kandung…Walau ada yang menyarankan untuk melakukan inseminasi buatan, atau bayi tabung, sama sekali tak mengusik kenikmatan bayangan punya bayi kandung yang lahir secara normal seperti perempuan lainnya.

Saat hati sedang tidak karuan itulah, seorang teman memberi saran supaya melakukan konseling ke Wisata Hati milik Ustadz Yusuf Mansur, yang cabangnya ada di Masjid Agung Jawa Tengah. Chamelia pun bergegas ke kantor perwakilan Wisata Hati Semarang. Disana perempuan kelahiran Tegal, 13 Maret 1978, bertemu ustadz Saefudin.

Oleh ustadz Saefudin, Chamelia dan suaminya, disarankan untuk melakukan amalan sholat taubat 6 rakaat sebelum tidur, membaca istighfar sampai tidur, sholat tahajud 6 rakaat, kemudian kami tambah sholat hajat, sholat dhuha 6 rakaat, dan kami disarankan untuk melakukan sedekah sebanyak – banyaknya dan dibagi dibeberapa tempat. “Semua harus kami amalkan dengan istiqomah dan ikhlas, hanya ridho dan kasih sayang Allah yang kami harapkan. Karena kami yakin bahwa Allah Maha Berkehendak dan memiliki segalanya. Kami pasrah anak yang punya Allah, jadi kami hanya meminta dengan Allah saja itu yang kami pikir saat itu,” tutur Chamelia.

Adalah kehendak Allah subhanahu wa ta’ala juga saat Chamelia ditakdirkan bertemu dengan ustadz sedekah, Ustadz Yusuf Mansur, di bulan Januari, tahun 2008. Saat itu ustadz Yusuf Mansur diundang ceramah di Masjid Baiturrahman, Semarang. Saat itu kepada para jamaah masjid ustadz Yusuf menghimbau supaya jangan ragu-ragu menguras isi dompet untuk tujuan sedekah” Sedekahkan seluruh isi dompet kalian.” Kesempatan bertemu ustadz Yusuf tak disia-siakan oleh sepasang suami istri yang sedang dirundung duka itu. Kepada ustadz Yusuf, Chamelia memohon agar beliau mendoakan agar Allah segera memberikan kepada mereka anak. Ustadz Yusuf pun mendoakan mereka. “Yang penting ente-ente semua, jangan lupa bersedekah,” ujar ustadz Yusuf dengan gaya betawinya yang khas.

Chamelia dan suaminya pun, tanpa ragu menguras isi dompetnya. Yang tersisa hanya uang Rp 10.000, sekedar untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba sepeda roda dua milik mereka, habis bensin atau ban bocor. Siapa sangka, semenjak peristiwa yang menguras air mata mereka itu, segala jalan cita dilempangkan. Masih di tahun 2008, tepatnya bulan Maret, Chamelia dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah, kebahagiaan kami tak terkira,” ujar Chamelia, yang diamini suaminya, Mart.

Neysha Fiedella Syabil, anak yang sudah ditunggu-tunggu itu, pun lahir pada 30 Nopember 2008. Duh, subhanallah, bahagianya. Balasan dari Allah, jauh sebelumnya, juga sudah diberikan, yakni pada tahun 2007, beberapa bulan setelah saran ustadz Saefudin dilaksanakan oleh pasangan suami istri itu. Balasan itu berupa kemampuan membeli tanah, dengan harga di bawah standar. Lalu pada awal 2008, Mart dan istrinya mulai sedikit demi sedikit membangun rumah. Saat kami sedang membangun pondasi rumah itulah, Chamelia dinyatakan hamil.

Bahkan, ketika pada masa kehamilan ada gejala akan ada masalah, kami sikapi dengan cepat-cepat bersedekah. Kelahiran pun akhirnya berjalan normal.
“Sampai sekarangpun kami masih belum percaya kami bisa membangun rumah sampai Rp 300juta, anak kami lahir sehat. Sekarang kami jadi ketagihan buat sedekah karena apa yang kami beri dibalas Allah SWT berlipat ganda diluar perkiraan kami,” tutur Chamelia tanpa bermaksud ria, tapi sekedar mengabarkan betapa besar nikmat Allah, yang bisa diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. [team daqu]

(Sumber www.pppa.or.id )

KISAH 4

MENGURAS KONTRAKAN MENDAPAT G.O.R

Oleh Dani Hermawan

“Gila!” Begitu cibiran yang hampir tiap hari menyengat telinga Dani Hermawan. Cibiran sadis tersebut diterimanya, setelah ia mengambil keputusan drastis yang sangat tidak masuk akal bagi rasio awam.

Bagaimana tidak. Dani hanyalah seorang pekerja serabutan. Ia tinggal di rumah kontrakan di Bogor bersama seorang anak dan istri yang tengah mengandung anak kedua. Untuk makan sehari-haripun, Dani sekeluarga sangat terbantu oleh kebaikan mertuanya.

Nah, dalam kondisi begitu, Dani malah menguras isi kontrakannya. Bukannya untuk dijual buat makan dan beli susu anaknya, tapi justru disedekahkan. Pencerahan sedekah Dani dapatkan, setelah nyawanya hampir melayang di ujung putus asa. Semula, Dani Hermawan seorang supplier ayam yang cukup berjaya. Peternakannya luas, ayamnya ribuan. Mobil pengangkut ayam tiap hari keluar-masuk kandangnya. Uang setoran pun mengalir deras ke kantongnya.

Sampai kemudian, wabah flu burung menyerang. Puluhan demi puluhan ayam negeri Dani mati, sampai akhirnya ludes tak tersisa. Dani Hermawan bangkrut pada tahun 2007.  Tragisnya, hampir tidak ada sisa masa kejayaan usaha Dani. Uang yang melimpah justru membuatnya lalai untuk menyiagakan masa depan keluarga. Bahkan rumah pun mereka tak sempat punya. “Saya lalai, saya lalai,” kenang Dani sambil terisak.

Bersamaan dengan itu, Nia Kurniawati istrinya pun di-PHK dari tempat kerjanya.
Untuk melanjutkan hidup sekeluarga, Dani lalu kerja serabutan sambil “mantab” (makan tabungan) yang sedikit tersisa. Beruntung dia memiliki mertua yang baik, sehingga kebutuhan dapurnya kemudian tertalangi. Walaupun, sebagai kepala keluarga yang pernah jaya, pria ini sungguh tak enak hati hidup dalam naungan mertua.

Perasaan bersalah, malu, sekaligus khawatir, menumpuk di dada, membuat Dani Hermawan stress. Apalagi anak mereka yang kedua jelang lahir. Duit dari mana buat biayanya? Uang dari mana untuk membeli susunya? Lalu buat sekolahnya nanti bagiamana?

Masya Allah, tak kuasa menahan stress, bisikan setan pun diikutinya. Satu malam, Dani ngeloyor ke rel kereta api tak jauh dari rumahnya. Sampai di sana, dia lalu nekad membaringkan diri menyilangi salah satu rel. Ketika kupingnya menangkap deru kereta Jabotabek dari arah Jakarta, Dani segera memejamkan mata rapat-rapat. “Sebentar lagi penderitaanku akan berakhir,” batinnya, walau dibarengi rasa takut.  Wes ewes ewes, bablas keretanya. “Lho, aku kok masih hidup,” Dani kaget ketika membuka mata. Olala, ternyata kereta api lewat melalui rel satunya.

Dani lalu memejamkan mata lagi, berharap kereta berikutnya segera lewat dan melindas tubuhnya. Tapi, tunggu punya tunggu, si kereta tak datang jua. Sementara, Dani harus bersilat melawan gerombolan nyamuk yang mengerubutinya. Plak, plok, plaak . Tak tahan dingin dan nyamuk, akhirnya Dani urung bunuh diri. Dengan langkah lunglai, pulang dia ke kontrakannya.

Suatu malam berikutnya, giliran bisikan malaikat yang dia ikuti. Saat iseng menyetel TV Banten, tiba-tiba Dani terpaku pada taushiyah Ustadz Yusuf Mansur. Sang Ustadz tengah menguraikan sedekah sebagai solusi problema kehidupan.

“Sedekah akan cepat bunyi bila ditunaikan dalam keadaan kita kepepet, lagi butuh, atau sangat menyayangi harta yang akan kita sedekahkan,” kata Ustadz, yang menancap betul di benak Dani. Besoknya, dengan getol Dani mulai memburu dan melahap taushiyah Ustadz melalui radio dan televisi, juga VCD.

Melihat hobby baru suaminya, semula Nia sinis. “Aa’, yang pasti-pasti aja deh. Uang itu ya didapat dari kerja, bukan sedekah,” kata Nia yang waktu itu masih belum berbusana muslimah. “O iya, ini juga pasti Dik. Tinggal kita yakin apa enggak,” Dani mencoba sabar. Ia maklum, dalam kondisi seperti ini istrinya jadi sensi.

Namun satu sore, Dani memergoki istrinya tengah menyimak VCD The Miracle. Tampak Nia manggut-manggut, merasa mendapat pencerahan. “Iya ya A’, kita sedekahkan yang kita punya yuk,” katanya, disambut senyum Dani.
Tak tega rasanya Darmawan Setiadi, saat menjemput sedekah Dani di kontrakannya. Di bawah tatapan melompong putri Dani, Darmawan dan tim PPPA Daarul Qur’an mengangkut kulkas, televisi, tape, sampai ke handphone satu-satunya milik tuan rumah. Semua barang itu bakal dijual di PPPA Shop, hasilnya untuk membiayai program pembibitan penghafal Qur’an.

“Mas Dani, bagaimana kalau hape-nya tidak usah ikut disedekahkan. Mas Dani kan sangat memerlukannya,” bisik Darmawan kepada Dani.

“Oh, tidak Mas. Saya memang sudah meniatkan untuk disedekahkan bersama barang-barang lainnya. Doakan saja agar Allah memberi balasan yang terbaik buat kami,” jawab Dani mantap. Apa boleh buat. Sambil menahan tangis haru, Darmawan membawa semua barang sedekahan Dani. Tak ayal, kontrakan Dani langsung kosong melompong. Yang tersisa hanyalah almari kayu tua yang sudah tidak layak untuk disedekahkan sekalipun.

Almari itu bagian tengahnya bolong, tadinya untuk wadah TV. Setelah TV-nya diangkut, Az Zahra anak sulung Dani nyeletuk, “Yah, sekarang kita nonton tipinya bohong-bohongan ya?”

Dani menjawab dengan mengusap sayang kepala putranya. “Tenang, Nak, Allah Maha Kaya dan Maha Mengetahui,” katanya, ditingkahi senyum tulus sang istri.

Setelah itu, Dani dan Nia Kurniawati, menggetolkan riyadhoh. Mereka dawamkan amalan wajib, ditambah amalan sunnah Nabi seperti sholat tahajjaud, dhuha, dan puasa Senin-Kamis.

Saking rindunya pada Rasulullah SAW, Dani bahkan mulai membiasakan diri mengenakan baju gamis. Namun, mantan pengusaha peternakan ayam yang kini hobby-nya ke masjid itu, malah disalahpahami. Bahkan sebagian orang menganggapnya kurang waras.

“Dik, mengapa mereka tega mengataiku gila. Apakah orang tidak boleh berubah jadi baik,” keluh Dani Hermawan pada istrinya. “Sabarlah A’, insya Allah, Allah akan menunjukkan jalan,” Nia menghibur suaminya.

Kabar tentang “keanehan” Dani, rupanya sampai juga ke seorang pengusaha yang masih tetangganya. Suatu malam, Dani dipanggil ke rumah si pengusaha. Setelah menyimak kisah singkat perjalanan hidup Dani, pengusaha itu berkata, “Hobby-mu apa Dan?” “Badminton, Pak, tapi belakangan ini sudah jarang main lagi,” Dani tersenyum. “Ya sudah, nanti kapan-kapan kita ketemu lagi.”  Saat dipanggil kembali, Dani kaget bukan kepalang. Pengusaha tersebut menjadikannya manajer Gedung Olah Raga (GOR) badminton di Jalan Soleh Iskandar, Bogor.

Selain menyewakan gedung badminton, Dani Hermawan juga mengajar kelas bulu tangkis. Dia pun melayani les privat olahraga yang sama. Ini menjadi kekuatan GOR yang dikelolanya. “Awalnya, hanya satu klub yang menjadi pelanggan kami. Sekarang alhamdulillah, sampai harus antri kalau mau makai GOR kami,” kata Dani.

Kini, kehidupan Dani Hermawan dan istrinya bersama kedua buah hati mereka, Azzahra Putri Dani dan Juaneta Putri Dania, jauh lebih baik. Tanpa dipaksa sang suami, Nia Kurniawati sudah berbusana muslimah. Mereka sangat mensyukuri semuanya, meskipun belum memiliki rumah sendiri. (aya hasna)
(sumber buku dahsyatnya sedekah)

Demikianlah beberapa kisah pengalaman orang yang terbebas dari penderitaan penyakit atau kebangkrutan dengan bersedekah. Allah pasti membalasi sedekah yang dikerjakan dengan ikhlas sepenuh hati dengan pahala berlipat ganda. Namun banyak diantara kita yang tidak menyadari hal ini , dan memandang remeh amalan sedekah.Mudah mudahan kisah diatas dapat memotivasi kita untuk bersedekah dan membelanjakan sebagian harta kita di jalan Allah.

23rd February 2013
Catatan Onlineku

Leave a Reply

Premium Wordpress Themes

File Explorer

December 2014
M T W T F S S
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031